Ads Top

Perjalanan Pulo Aceh - Lampulo (5)






 

12746309_899441100153913_386216940_n
Pagi itu di hari senin tanggal 22 Februari 2016,  hari yang membuat kami merasa sedih, karena harus meninggalkan Pulo Aceh, dan tidak tahu kapan akan kembali
Setelah subuh kami dikejutkan dengan hilangnya dompet Rahmat, ia sudah sibuk mencari kesana kemari namun belum juga diketemukan, membuat orang yang berada di warung kopi menjadi kalang kabut
Akhirnya dompetnya diketemukan dibawah kolong bangku warung kopi
Pukul 08:00 kapal motor Jasa Bunda mulai meninggalkan dermaga setelah semua orang dan peralatan dimaksudkan kedalam kapal. Di dalam kapal ikut serta puluhan pekerja yang berasal dari pulau Jawa
Kami seperti sebelumnya sewaktu berangkat ke Pulo Aceh duduk di kepala kapal yang ketika ombak mengamuk serta merta menyentakkan kami dari lamunan.
Syukri sibuk menyiapkan dua karangan puisi, setelah siap ia bacakan dengan suara lantang, kemudian dilanjutkan dengan membaca syair perahu karya Hamzah Fansuri
“Inilah gerangan suatu madah, mengalunkan syair terlalu indah….,” bacanya
Ombak masih saja bergemuruh membuat kapal tersentak, aku tidak merasa terlalu takut seperti ketika perjalanan ke Pulo Aceh tempo hari
Hal itu terjadi sampai kapal akan memasuki kuala Aceh, kapal-kapal besar berlayar tidak jauh dari kami
Tiba-tiba secara tidak terduga, sebuah kapal polisi yang daritadi berlayar di belakang kapal besar itu mendekati kami, kapal kami diberhentikan, kapal polisi itu mulai mengikat kapal kami
Tanpa salam ia langsung mengintogerasi penumpang yang berasal dari Jawa
“Ada bawa ganja?,” tanyanya
Bisik-bisik kecil muncul diantara kami
“Itu ada laporan tentang kepulangan mereka, makanya diinterograsi,” ucap salah seorang diantara kami
Setelah 20 menit, akhirnya para petugas itu meninggalkan kami tanpa menemukan apa-apa
Dermaga Lampulo semakin dekat, kuala Aceh sudah dimasuki, Pulo Aceh tak tampak lagi dimata
Selamat tinggal Pulo Aceh, hanya kenangan yang tinggal

No comments:

Powered by Blogger.